Jakarta dan Mal

14 Januari 2012

Jakarta telah dinobatkan sebagai kota dengan jumlah mal terbanyak di dunia, demikian sebuah artikel di Viva News menyebutkan. Jumlah 170 mal untuk kota dengan luas dan kepadatan seperti kota Jakarta agaknya telah melebihi kapasitas dan kemampuan kota ini untuk menampung aktivitasnya. Keberadaan mal dalam sangkut pautnya dengan kontribusi menambah kepadatan kota bukan hanya perkara penambahan area kegiatan di lokasi terpusat tertentu, tetapi juga acap kali menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di titik-titik tertentu. Kemacetan yang sudah ada sebelum mal berdiri, diperparah dengan keberadaan mal di situ.

Jakarta dan mal. Mungkin pembangunan mal yang demikian pesat di setiap sudut kota Jakarta dimaksudkan untuk menjadikan kota ini pusat belanja regional? Agar penduduk dari Malaysia dan Brunei memuaskan diri dengan belanja di Tanah Abang dan mal di seantero Jakarta, misalnya. Atau pembangunan mal diharapkan membangun perekonomian masyarakat kota? Apa pun kebijakan di balik pembangunan mal, yang saya tak begitu saya pahami, mari kita tengok dari sudut manusia Jakarta.

Pernah saya singgung dalam posting sebelumnya, tentang kebutuhan masyarakat kota akan ruang terbuka di Jakarta. Ruang itu menjadi kebutuhan interaksi dan ruang aktivitas masyarakat kota. Pada saat ruang terbuka tidak tersedia secara cukup, bahkan tergantikan dengan mal dan ruang seolah-olah di dalamnya, maka aktivitas dan kehadiran masyarakat kota oun menjadi artifiaial dan seolah-olah. Bukan alam dan kesegaran udara yang menghidupi masyarakat kota, tetapi pakaian, citra, dan segala atribut budaya yang terpajang dan terbentang di mal yang menghidupi manusia di kota ini.

Manusia di mal melihat dan dilihat. Saat saya menikmati aktivitas saya di mal pun, saya menyerap dengan haus segala yang terpajang di etalase-etalase sepanjang lorong-lorong mal, termasuk informasi diskon terkemuka. Pada saat yang bersamaan saya mengamati mereka yang berlalu-lalang di sekitar saya, dengan berbagai penampilan dan laku. Kadang pantas, kadang tidak. Kadang sesuai tren, kadang tidak. Komentar pun kadang tak terelakkan. Tapi bukankah itu perilaku manusia? Terutama manusia yang hidup dalam identitas citra bentukan massa.

Dalam kepadatan aktivitas sehari-hari, mal akhirnya menjadi oilihan rekreasi akhir pekan. Pilihan di antara takada pilihan, pilihan yang sekedar ke mal yang mana akhir pekan ini? Karena mal menjadi pusat segala kebutuhan manusia dapat terpenuhi. Makan, pakaian, dan hiburan. Rekreasi yang hingar bingar dan menguras isi kantong. Padahal mal sering kali menjadi pilihan ketimbang rekreasi ke tempat-tempat lain yang dianggap lebih menguras isi kantong. Sebuah kontradiksi, sebenarnya…

Iklan

We Got the Blues

19 Desember 2011

Puisi bagi seorang penyair, lukisan bagi seorang pelukis, seperti juga sebuah gubahan musik bagi seorang pemusik. Menurut Acep Iwan Saidi, musik adalah sebuah narasi yang menyampaikan pesan dan makna tertentu. Musik menjadi sarana komunikasi antara pendengar dengan teks musik yang didengarnya. Pandangan tersebut saya sampaikan sebagai pembuka, karena apa yang akan saya tuliskan di sini mungkin semata dari perspektif saya sebagai pendengar dan penikmat musik saat saya hadir di Jakarta Blues Festival 2011, pada 17 Desember 2011 yang baru lalu.

Blues adalah musik yang lahir dan berakar dari budaya Amerika, atau lebih tepatnya masyarakat Afrika-Amerika di wilayah perkebunan sebelah selatan, pada abad ke-19. Sebagai musik yang lahir dari ungkapan kehidupan perbudakan yang sulit, Blues menjadi musik yang ekspresif menyuarakan kepedihan. Berpikir tentang Blues akan terasosiasi dengan ketakberuntungan dan penyesalan. We got the Blues, adalah ungkapan yang biasa terucap dalam kesedihan.

Dalam perkembangannya, Blues berkembang ke berbagai wilayah meskipun tidak sepesat genre musik Jazz. Hal ini terlihat dari musisi dan penonton yang hadir tidak sebanyak festival musik sejenis, Java Jazz misalnya. Padahal lirik Blues tidak semata tentang kesedihan dan jauh melampaui pengasihanan terhadap ketakberuntungan diri sendiri. Seperti kata John Mayall, I write songs about real things… The subject dictates the mood and it groes from there, really... Blues lebih sebagai ekspresi dan pelepasan terhadap kesusahan. Dalam A Brief History of the Blues, Ed Kopp memberi perumpamaan, Blues is about letting your hair down and simply having fun.

Sebagai penikmat musik, saya larut dalam musik Blues. Saya mengikuti emosi yang dibawakan oleh para musisi dalam Jakarta Blues Festival 2011. Dari rintihan kesedihan sampai kesenangan yang memuncak. Dari Blues klasik yang dibawakan oleh band internasional seperti BoPoMoFo, sampai melodi yang hadir dari tangan musisi yang berakar dari tradisi seperti Balawan. Beberapa stage yang disediakan di Festival ini masing-masing menampilkan musisi Blues dari berbagai negara dan latar, sehingga musik Blues yang diperdengarkan pun bermacam-macam. Meminjam istilah yang ditulis Roland Barthes dalam Imaji, Musik, Teks; Blues menjadi bukan hanya alunan musik dari hasil aktivitas musikal yang bersifat manual, muskular, dan fisikal, tetapi berurusan dengan suara likuida yang menerjemahkan emosi dan memperjelas petanda dan makna dari syair puitis.

Saya menikmati musik, meskipun bukan pengkoleksi sebuah genre musik secara spesifik. Bagi saya, musik berkaitan dengan rasa dan indera. Oleh sebab itu, mendengarkan musik dalam ruang dan waktu yang berbeda akan menghasilkan rasa dan situasi yang berbeda. Menikmati alunan musik dalam sebuah festival musik seperti ini, sungguh makanan terbaik bagi seluruh indera. Musik yang terdengar berpadu dengan komposisi warna dari tata panggung dan lampu yang berganti warna dan cahaya. Sejuknya angin dingin dan hujan rintik berpadu dengan kesesakan penonton area Festival. Telinga, mata, dan kulit merasakan musik yang bersenyawa dalam udara.

Musik adalah ungkapan jiwa. Entah itu gemuruh musik marching band yang menghentak  sampai lengkingan suara dari gitar, atau alunan bunyi gamelan yang menenangkan sampai rebana pengiring arak-arakan. Musik yang keluar dan dihasilkan oleh hati, akan menyentuh pendengarnya langsung. We got the Blues, bukan berarti ungkapan kesedihan tetapi justru kegembiraan tubuh menerima Blues dari seluruh indera.


Dunia Seolah-olah di Central Park

6 Desember 2011

Suatu akhir minggu saya menikmati keberadaan saya di sebuah mal di Jakarta Barat. Mal yang mengambil nama dari sebuah taman urban yang sangat terkenal di New York ini, agaknya memang menginginkan keberadaannya diakui sebagai tempat tongkrongan yang menyenangkan banyak orang. Pepohonan dan ruang terbuka bentukan diciptakan di sini, lengkap dengan kolam ikan dan lajur pejalan kaki mengilingi taman yang seputaran tengah saja.

Mal memang menjadi tujuan wisata masyarakat urban saat ini. Sedemikian minimnya sarana ruang terbuka kota, mal diubah dari ruang belanja menjadi amat banyak ruang yang memuat ruang-ruang pribadi tempat membuat janji bertemu dan menampilkan serta mengonsumsi mode yang tak ada habisnya. Mal didesain secara strategis untuk niaga dan pelayanan waktu luang, ruang bagi gaya pribadi dan pernyataan pribadi. Mal menjadi tampungan komoditas budaya populer, yang sewaktu-waktu merubah tampilan dan citra visual sesuai tema waktu saat itu. Seperti diutarakan oleh John Fiske, mal memberi ruang bagi manusia untuk secara indrawi dan kognitif memetakan posisinya dalam dunia eksternal dan lingkungan segera (immediate surrounding).

Dunia seolah-olah yang diciptakan di Mal Central Park ini ibarat bunglon yang mengikuti ruang dan waktu. Dalam waktu umum, ruang terbuka di tengah mal ini menjadi ruang terbuka yang seolah-olah alami. Dinikmati dalam ketenangan alam dan kehijauan rumput dan pepohonannya. Suasana ini berganti sesuai perjalanan waktu. Pada akhir tahun seperti sekarang ini, diciptakanlah suasana Natal lengkap dengan pohon natal besar sebagai center piece dan lagu-lagu natal yang bisa dinikmati pengunjung. Siang tentu berbeda dari malam, dan seluruh indera kita akan dirangsang oleh seluruh elemen pembentuk citra pendukungnya.

Citra merupakan bentuk yang paling lazim dalam mengisi ruang publik. Dalam kerangka fungsi komersialnya, citraan-citraan merupakan alat persuasif untuk menembus akal sehat kritis, untuk menjajah dan menguasai kehidupan batin, dan untuk membentuk dan mengatur tingkah laku (Yasraf Amir Piliang dalam Lifestyle Ecstasy). “Now Jakarta The Christmas City” adalah tag yang diusung oleh mal ini menyambut Natal. Sebuah kalimat pendukung pemasaran yang diwujudkan dalam visual nyata ruang bentukan yang dapat dilihat dan dialami pengunjungnya. Taman menjadi ruang ekspresi publik, dengan ilusi suasana dunia Barat yang kental. Di beberapa mal lain, dengan kemajuan teknologi pencitraan, suasana ini ditambah oleh butiran-butiran salju buatan yang ditunggu anak-anak dengan riang.

Saya menjadi penikmat dunia seolah-olah ini. Sambil mendengarkan alunan suara Michael Bubble dan memperhatikan laku pengunjung lain, saya membayangkan suasana dingin dan salju yang belum berhasil dihadirkan oleh mal ini…


Kopi dan Kafe

18 November 2011

“Men say that coffee helps them get the job done, while woman say it’s a good way to relax (visual.ly)”

Kopi adalah satu hal yang mengawali hari saya di pagi hari. Secangkir kopi saya nikmat dengan duduk bersandar di sofa, dan kaki beralaskan bantal di depan televisi. Kopi instan tetap terasa sebagai kopi, dengan rasa dan baunya yang tidak terlalu tajam tetapi tetap memberi kenyamanan di mulut dan perut.

Menikmati kopi dalam waktu dan suasana berbeda tentu akan memberi kesan yang berbeda. Terlebih bila kopi itu dinikmati bersama teman di sebuah kafe ternama. Dilihat dari perspektif struktural, menurut Jean P. Baudrillard, yang kita konsumsi adalah tanda (pesan dan citra) ketimbang komoditas. Ini berarti konsumen membaca sistem komunikasi untuk mengetahui apa yang dikonsumsi. Komoditas tidak lagi didefinisikan berdasarkan kegunaannya, namun berdasarkan atas apa yang mereka maknai.

Biji kopi adalah komoditas. Secangkir kopi adalah bahan konsumsi. Tetapi secangkir kopi mahal yang dinikmati dalam sebuah kafe ternama adalah gaya hidup. Gaya hidup yang saat ini menjadi marak berlaku di kota besar di seluruh negeri, khususnya di kotaku ini. Kafe-kafe baru bertumbuhan di sudut-sudut kota, bahkan merambah daerah pemukiman. Apa jaminan kafe-kafe tersebut akan laku dan bertahan hidup di tengah persaingan? Gaya hidup. Gaya hiduplah yang dicari pada saat konsumsi tidak mengatasnamakan komoditas.

Saya penikmat kehidupan kota. Saat menulis blog ini pun, saya tengah menikmati secangkir kopi panas yang harum di sebuah kafe yang tengah menjadi perbincangan di lingkungan peegaulan sosial saya. Bagi saya,

Coffee is heaven…