Dunia Seolah-olah di Central Park

6 Desember 2011

Suatu akhir minggu saya menikmati keberadaan saya di sebuah mal di Jakarta Barat. Mal yang mengambil nama dari sebuah taman urban yang sangat terkenal di New York ini, agaknya memang menginginkan keberadaannya diakui sebagai tempat tongkrongan yang menyenangkan banyak orang. Pepohonan dan ruang terbuka bentukan diciptakan di sini, lengkap dengan kolam ikan dan lajur pejalan kaki mengilingi taman yang seputaran tengah saja.

Mal memang menjadi tujuan wisata masyarakat urban saat ini. Sedemikian minimnya sarana ruang terbuka kota, mal diubah dari ruang belanja menjadi amat banyak ruang yang memuat ruang-ruang pribadi tempat membuat janji bertemu dan menampilkan serta mengonsumsi mode yang tak ada habisnya. Mal didesain secara strategis untuk niaga dan pelayanan waktu luang, ruang bagi gaya pribadi dan pernyataan pribadi. Mal menjadi tampungan komoditas budaya populer, yang sewaktu-waktu merubah tampilan dan citra visual sesuai tema waktu saat itu. Seperti diutarakan oleh John Fiske, mal memberi ruang bagi manusia untuk secara indrawi dan kognitif memetakan posisinya dalam dunia eksternal dan lingkungan segera (immediate surrounding).

Dunia seolah-olah yang diciptakan di Mal Central Park ini ibarat bunglon yang mengikuti ruang dan waktu. Dalam waktu umum, ruang terbuka di tengah mal ini menjadi ruang terbuka yang seolah-olah alami. Dinikmati dalam ketenangan alam dan kehijauan rumput dan pepohonannya. Suasana ini berganti sesuai perjalanan waktu. Pada akhir tahun seperti sekarang ini, diciptakanlah suasana Natal lengkap dengan pohon natal besar sebagai center piece dan lagu-lagu natal yang bisa dinikmati pengunjung. Siang tentu berbeda dari malam, dan seluruh indera kita akan dirangsang oleh seluruh elemen pembentuk citra pendukungnya.

Citra merupakan bentuk yang paling lazim dalam mengisi ruang publik. Dalam kerangka fungsi komersialnya, citraan-citraan merupakan alat persuasif untuk menembus akal sehat kritis, untuk menjajah dan menguasai kehidupan batin, dan untuk membentuk dan mengatur tingkah laku (Yasraf Amir Piliang dalam Lifestyle Ecstasy). “Now Jakarta The Christmas City” adalah tag yang diusung oleh mal ini menyambut Natal. Sebuah kalimat pendukung pemasaran yang diwujudkan dalam visual nyata ruang bentukan yang dapat dilihat dan dialami pengunjungnya. Taman menjadi ruang ekspresi publik, dengan ilusi suasana dunia Barat yang kental. Di beberapa mal lain, dengan kemajuan teknologi pencitraan, suasana ini ditambah oleh butiran-butiran salju buatan yang ditunggu anak-anak dengan riang.

Saya menjadi penikmat dunia seolah-olah ini. Sambil mendengarkan alunan suara Michael Bubble dan memperhatikan laku pengunjung lain, saya membayangkan suasana dingin dan salju yang belum berhasil dihadirkan oleh mal ini…

Iklan

Rekonstruksi Citra Wanita dalam Media

1 Juni 2011

Citra wanita adalah citra yang acap kali terpinggirkan dalam media. Wanita dalam media diposisikan dalam situasi yang terkemuka secara visual, tetapi terpinggirkan dalam makna. Tinjauan tentang representasi wanita dalam media televisi dan iklan khususnya telah banyak dimuat dalam jurnal-jurnal ilmiah dan dalam tulisan populer di media massa, tetapi sayangnya hal itu tidak mengubah pelaku-pelaku industri media dalam konteks perlakuannya terhadap wanita dalam media.

Wanita dalam banyak media ditempatkan sebagai objek, bukan sebagai subjek. Sebagai objek, wanita menerima perlakuan dilihat, dinilai, diapresiasi dalam berbagai konteks wacana media. Visualisasi wanita dalam media diwarnai oleh stereotipe dan komodifikasi sebagai pelaris produk. Sementara peran perempuan sendiri belum beranjak dari urusan-urusan domestik, seperti mengasuh anak, mencuci, belanja, memasak, dan melayani kebutuhan suami. Wanita tetap menjadi subordinat laki-laki, dengan laki-laki menjadi subjek dan sang penguasa nilai-nilai kehidupan sosial. Wacana ini ada dalam berbagai bentuk media massa, mulai dari dongeng hikayat dan cerita rakyat, sampai pada majalah, iklan dan film layar lebar.

Stereotipe visual wanita adalah berkulit putih, bertubuh langsing dan berparas cantik.  Konstruksi seperti ini berurat akar dalam bentuk mainan anak-anak sampai dengan iklan perawatan bagi wanita berumur, yang notabene dimaksudkan untuk “memelihara kecantikan kulit”. Kemana citra wanita Indonesia seutuhnya yang selalu didengung-dengungkan dalam nilai-nilai Dharma Wanita zaman Orde Baru tervisualkan di sini? Apakah citra wanita Indonesia itu sebatas posisi dan kekuasaan wanita dalam rumah tangga?

Saya tidak akan mempermasalahkan posisi dan peran wanita dalam keluarga, tetapi lebih pada bagaimana wanita dikonstruksikan secara visual pada media massa. Apakah ada media massa yang secara konsisten mengkonstruksi citra wanita Indonesia dan bukan terpengaruh oleh selera pasar global? Mungkin beberapa majalah wanita di Indonesia telah berupaya untuk membentuk konstruksi citra wanita Indonesia tersebut. Antara lain majalah Femina dan majalah Dewi, yang acap kali dalam berbagai kesempatan yang insidentil sifatnya, menampilkan sosok wanita Indonesia dalam busana daerah modern, dengan gaya dan gesture yang luwes dan sopan. Tetapi apakah ini yang disebut sebagai citra wanita Indonesia?

Media berperan dalam membentuk persepsi sosial budaya masyarakat. Apa yang divisualisasikan melalui media secara terus-menerus akan diterima oleh khalayak sasarannya sebagai ujaran-ujaran yang terus-menerus pula, dan akhirnya terekam dan menjadi pembelajaran masyarakat. Seorang anak perempuan yang sejak kecil menerima cerita dongeng tentang putri dan pangeran dengan kehidupan bahagia selamanya, akan membentuk persepsi visual tentang putri cantik dan pangeran rupawan yang akan datang menyelamatkan kehidupan sengsaranya atas nama cinta. Demikian pula remaja putri yang terus-menerus melihat bagaimana gaya berbusana yang pantas dan menarik melalui majalah, iklan, dan sinetron di televisi, maka akan membentuk persepsi visual tentang jenis busana yang harus dimiliki dan membentuk citra dirinya sebagai remaja putri yang bergaya.

Istilah rekonstruksi biasa diartikan sebagai upaya membentuk kembali dan memperbaiki. Konstruksi citra wanita yang selama ini dilakukan oleh media dapat direkonstruksi oleh media itu sendiri dengan tujuan tertentu, antara lain memperbaiki citra yang sebelumnya telah terlanjur rusak. Fenomena konstruksi wanita dalam media massa sudah pada tataran yang sudah mengkhawatirkan, karena dampak yang ditimbulkan sangat besar. Peran media massa yang semestinya menjadi sarana pencerdasan publik dan emansipasi wanita, justru terus menerus mereproduksi dan melanggengkan kultur patriarki dan sekaligus mendomestikasikan dan mengabaikan wanita.

Dilandasi oleh kesadaran betapa kuatnya peran media dalam merekonstruksi citra…maka bagaimanakah kita sepatutnya merekonstruksi citra wanita Indonesia?


Kisah Briptu Norman dalam Ruang Publik Dunia Maya (II)

7 April 2011

Sebagai kelanjutan kisah terdahulu, Briptu Norman telah menjalani hukuman yang ditetapkan bagi dirinya, yaitu menyanyikan lagu yang mempopulerkan namanya itu di depan khalayak, yang notabene adalah bagian komunitasnya sendiri. Tidak tampak rasa keberatan dari yang sang tokoh dan yang menjadi publik aksinya, bahkan dari otoritas yang menjatuhkan hukuman tersebut. Itulah yang terlihat, karena karena informasi yang saya dapatkan juga, hanya melalui media massa.

Seorang teman mengatakan, pada saat seseorang melakukan aksi ekspresi tersebut, tidak lepas dari keinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik. Kesadaran ataupun keinginan bawah sadar untuk dilihat dan dikenal, telah stimulan aksi publik tersebut. Ada kesamaan dari kisah Briptu Norman dan Shinta – Jojo, keduanya tidak merasa terganggu oleh perhatian publik yang mendadak sontak tertuju pada dirinya. Pada masyarakat massa yang tertelan oleh budaya massa, selebriti telah menjadi heroic image, yang terkenal karena keterkenalannya (Daniel Boorstin). Ia menjadi ada, karena ia telah terlihat di ruang publik dan dianggap keberadaannya. Budaya massa saat ini yang notabene adalah budaya berbasis selebriti inilah yang membentuk identitas masyarakat massa.

Terkait dengan bukti kesuksesan Shinta – Jojo, tidak kecil kemungkinan ada banyak orang yang kemudian memimpikan kesempatan serupa. Sejalan dengan fenomena idol yang marak saat ini, menjadi terkenal dan kaya secara instan akhirnya bermakna sukses. Menjadi terkenal dalam hitungan waktu yang sangat singkat, dengan modal yang terlihat. Di sinilah mata dan persepsi memainkan peranan, di mana mata telah membentuk persepsi publik yang menyaksikan. Bukan rasa dongkol dan benci yang timbul, melainkan rasa terhibur bahkan simpati yang terbentuk berdasarkan tampilan sekian menit di ranah publik dunia maya. Persepsi yang membentuk simpati, yang kemudian didorong oleh media berita dan hiburan yang terus mengangkat dan mendorong pembentukan selebritas baru. Sebuah komodifikasi kedirian (selfhood) yang terbentuk melalui genre narasi media (Anthony Giddens).

Upaya pembentukan identitas sosial baru ini tidak lepas dari sikap, nilai, dan cita rasa kelompok sosial. Generasi manusia urban yang terbentuk pola pikir dan nilainya dari budaya massa dan media yang telah mengisi kantung nilai-nilai moral mereka. Kita seringkali tidak paham konteks di balik nilai teknologi media yang diciptakan Barat dan baru mampu menggunakan secara teknis. Artinya konsekuensi di tingkat pengguna tidak disertai logika sehingga salah penilaian acap kali mengaburkan inti persoalan yaitu sadar konteks (…makasih mas Adikara…) Ketidakpahaman konteks dan fungsi media juga terutama karena kita hanya sebagai pengguna dan penyerap perkembangan teknologi, yang seringkali dibuat dalam jarak dan waktu yang jauh dari kita.


Citra Wanita Kotogadang, Terupa dan Terbaca

29 Maret 2011

 

Entah kenapa citra wanita acap kali menjadi bahan pemikiran saya, baik secara visual maupun verbal. Terlepas dari kenyataan bahwa saya seorang wanita yang terupa dan terbaca sebagai wanita, atau secara visual jelas-jelas adalah wanita. Pada kenyataannya wanita selalu menjadi bahan pembicaraan, oleh wanita atau bukan wanita.

Citra wanita terbentuk banyak oleh penampilan dirinya. Apalagi di tengah dunia laki-laki di mana penilaian visual menduduki peringkat atas setelah isi, bagai kulit yang terlihat lebih nyata daripada manis buahnya. Penampilan seorang wanita dibentuk oleh wajah dan kelengkapan penunjangnya, yaitu pakaian dan perhiasannya. Dalam setiap budaya dan zaman, terbentuknya penampilan wanita dan segala kelengkapannya dipengaruhi secara langsung oleh situasi ekonomi, sosial, budaya, dan latar belakang tradisi dan agama.

Dalam budaya tradisi, khususnya tradisi ranah budaya saya, Kotogadang – Minangkabau, citra wanita terbaca melalui pakaian yang digunakannya, dari corak dan warnanya. Bagaimana seorang gadis dicitrakan, akan berbeda dari wanita dewasa (baru atau lama menikah), dan wanita usia tua (yang sudah memiliki cucu). Warna dan corak baju ini berada dalam nuansa merah yang menerang dan memudar, sesuai dengan lanjutnya usia wanita itu.

Corak dan warna pakaian seorang gadis, dengan bahan busana tipis menerawang, berwarna muda merah atau warna lain yang mencitrakan kesegarannya. Kemudian corak dan warna pakaian wanita dewasa yang baru menikah, berwarna merah terang merekah, ditambah sampiran selendang yang merah berbordir benang emas yang meriah. Makin lama usia pernikahan wanita tersebut, maka warna selendang yang dipakainya boleh pula berkurang kadar kecerahannya. Sampai akhirnya wanita usia tua, akan menggunakan pakaian yang pudar pula warnanya, bukan karena lama terpakai, tapi karena tidak lagi pantas berwarna cerah.

Tradisi budaya ranah minang, Kotogadang ini, sesungguhnya tidak lepas dari filosofi hidup yang terkait erat dengan alam. Di mana seseorang mengalami perkembangan sampai puncak keranumannya, kemudian merekah, dan akhirnya meredup sejalan dengan bertambahnya usia. Tidaklah pantas citra visual yang ditampilkan seorang wanita Kotogadang, melawan kodrat waktu dan budaya tanah kelahirannya.


Menengok Citra Perempuan dari Sampul Majalah

25 Januari 2010

 

Bagaimanakah tipe perempuan cantik di Indonesia saat ini? Kebanyakan orang akan menjawab berkulit putih dan bertubuh langsing. Citra perempuan seperti ini mudah disimpulkan jika melihat suatu iklan produk. Bukan hanya produk kecantikan.

Citra tentang cantiknya seorang perempuan di Indonesia pun bisa dilihat dari perjalanan sebuah sampul majalah perempuan ternama di Indonesia. Sejak periode 1970-an sampai dengan periode tahun 2000-an, model perempuan di sampul majalah itu seolah menjadi rujukan tentang definisi “cantik”.

Penelitian mahasiswa S-2 Universitas Trisakti, Elda Franzia Jasjfi, menunjukkan faktor politik, sosial, dan ekonomi menjadi faktor-faktor penentu pembentukan sosok “cantik”. Dia meneliti sosok cantik perempuan melalui sampul majalah perempuan ternama di Indonesia sejak era 1970-an.

Tesis yang mendapat bimbingan dari dosen dan sastrawan Bandung Dr. Acep Iwan Saidi ini menyatakan bahwa image foto model, tipografi, dan warna merepresentasikan sosok perempuan dengan kategori berbeda-beda. Setiap periode sesuai dengan situasi dan kondisi politiknya, ekonomi, sosial, dan budaya telah menjadi faktor tidak ajeknya tren cantik di Indonesia.

Pada periode 1970-an, citra perempuan yang disebut cantik itu terwakili oleh sosok ibu rumah tangga dari kalangan menengah atas. Akan tetapi lebih enak disebut perempuan neopriayi. Seorang perempuan yang masih ada di dalam rumah, tetapi bercita-cita ingin mendapatkan informasi lebih banyak.

Citra seperti itu bisa dilihat dari cetakan foto model di sampul majalah tersebut. Model tampil sendiri atau berdua dengan latar suasana yang terkait “rumah”. Pemilihan latar ini memberi pesan bahwa perempuan sebagai ibu rumah tangga yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kesehariannya di rumah tangga.

Konstruksi perempuan di periode saat ini kental dengan gaya priayi Jawa. Gaya ini menekankan norma-norma perbedaan laki-laki dan perempuan yang sangat kentara bahwa perempuan adalah tulang punggung kehidupan di rumah tangga. Segala urusan apa pun di dalam rumah adalah urusan perempuan. Ibu di masa ini adalah perempuan di dalam rumah.

Dalam karya foto-foto sampul majalah tahun 1970-an menampilkan sosok perempuan priayi yang tertutup. Menurut kajian si penelitinya, hal itu merupakan penanda atas situasi represif pemerintahan orde baru. Walaupun represivitas pemerintah tidak langsung nyata melarang perempuan ke luar rumah, tetapi tekanan itu ditegaskan dalam tingkah laku hubungan suami-istri di dalam rumah.

 Periode 1980-an, dalam ruang sampul majalah perempuan itu, menjadi lanjutan dari era sebelumnya. Pada era ini perempuan digambarkan mulai berusaha menjadi sosok mandiri dengan mulai ikut bekerja. Karena saat itu pemerintah sedang gencar membangun akibat booming minyak. Di masa ini, media majalah itu ingin menyatakan bahwa sudah ada kesadaran perempuan dalam dunia kerja. Akibatnya, banyak tulisan profil perempuan yang bekerja di wilayah yang biasanya hanya dipegang laki-laki. Namun, si peneliti melihat, bahwa saat itu persoalan perempuan bekerja tidak semata-mata karena kesadaran femininisme liberal seperti yang berlaku di Barat.

Perempuan bekerja di masa 1980-an adalah karena dorongan ekonomi keluarga yang menuntut tambahan biaya. Dari sisi tampilan perempuan di masa ini, kecantikan pada masa 1980-an adalah perempuan yang gesit dan cerdas mengurus rumah tangga sekaligus kerja adalah bentuk wajah bulat dan tulang pipi menonjol. Kesan lemah lembut menjadi kesan feminin perempuan di masa itu.

Kelanjutannya di masa 1990-an, perempuan yang disebut cantik adalah mereka yang makin aktif dan terpacu dalam ruang globalisasi. Image fisik perempuan yang aktif di masa globalisasi mulai dicirikan dengan perempuan indo dengan kulit putih, tulang pipi tirus, dan wajah lonjong. Dan, tentu saja berkulit putih.

Akan tetapi masih seperti di era sebelumnya, perempuan di era 1990-an pun masih berkutat pada persoalan kerja dan rumah. Persoalan ini terimplementasi dengan sajian bacaan tentang bagaimana kehidupan perempuan aktif dengan urusan seksualitas di rumah.

Kondisi ini terus dibawa sampai ke era 2000-an. Dengan begitu, peran apa pun yang diambil perempuan di zamannya, tetap terkurung pada budaya patriarkal. Meski seolah terlihat ada nuansa kebebasan individu, perempuan Indonesia tetap masih urusan rumah. ***

artikel oleh Agus Rakasiwi seperti diterbitkan pada Buletin Kampus, Harian Pikiran Rakyat, Kamis 14 Januari 2010 http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=121379


Model sebagai Pembawa Citra

22 Januari 2010

 

Dalam budaya konsumen, media-media visual seperti iklan, majalah populer, televisi, dan sinema, menyajikan perkembangbiakan citra stylised tubuh. Media populer tersebut secara terus-menerus menekankan manfaat fashion dan kosmetika, sebagai arena tempat bekerjanya hasrat konsumen untuk membeli produk karena mereka berkeinginan untuk tampak seperti para model fashion yang mereka lihat di majalah pop. Para pahlawan dari dunia pop dan para model fashion menjadi penentu tren (trendsetter) yang memainkan peran model (the role model) terutama bagi generasi muda. Mereka menjadi icon tempat berpusarnya daur ulang gaya dan tren fashion. Citra tentang keindahan tubuh, terbuka secara seksual dan terkait dengan hedonisme, waktu luang dan display tubuh, menekankan pentingnya penampilan dan pandangan. (Malcolm Barnard, 2006)

Media-media komunikasi visual berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan yang dibawa oleh produk-produk budaya populer, untuk kemudian secara aktif menyebarkannya kepada khalayak sasaran. Fungsi ini didelegasikan kepada para selebriti yang ditampilkan pada iklan, sampul majalah, televisi, dan sinema. Dalam hal ini selebriti berperan sebagai pembawa citra yang ingin dibentuk dalam dunia populer, yang menempatkan dirinya sebagai role model dalam konteks gaya hidup dan penampilan. Kesadaran bahwa selebriti ini dilihat dan terekspos secara visual menyebabkan tingginya kesadaran untuk menjaga citra visual dirinya.

Men act, women appear”, adalah deskripsi termasyur dari John Berger mengenai situasi budaya dan relasi asimetris antara pria dan wanita. Ia menegaskan peran wanita sebagai gender yang dilihat dan diamati, yang kemudian diperumit dengan aktivitas wanita mengamati dirinya yang diamati. Relasi ini menyebabkan wanita harus memperhatikan semua yang ada pada dirinya dan semua yang dilakukannya, sebab bagaimana ia terlihat, dan terutama bagaimana terlihat di mata pria, merupakan faktor penting bagi apa yang biasanya dianggap sebagai keberhasilan dalam kehidupannya. (John Berger, 1972).

Situasi ini diserap oleh industri media dengan kerap menampilkan wanita pada iklan, majalah, televisi, dan media visual lainnya. Sebagai satu contoh kasus; media massa cetak seperti majalah wanita menampilkan wanita sebagai model sampulnya, sesuai dengan citra yang diinginkan oleh majalah tersebut tampil mewakili identitas majalah tersebut. Model pada sampul majalah berinteraksi dengan pembaca melalui tampilan visual semata. Model tidak hadir secara nyata dan berkomunikasi verbal, tetapi ia dikenali dan dipersepsi berdasarkan penampilannya yang muncul pada sampul majalah. Oleh sebab itu terjadi pemilihan dalam menentukan pose yang akan menampilkan gesture model, pakaian dan aksesori yang digunakan, tatanan rambut dan wajah yang ditampilkan, sampai dengan ekspresi dan pencahayaan dalam proses pemotretan. Semua itu dipilih dengan seksama, karena apa yang tampil dalam sampul majalah kemudian menjadi tanda-tanda semiotis yang bermakna dan berkomunikasi aktif kepada pembaca.

Relasi pembaca dengan majalah (yang tampil dalam wujud model sampul) berlangsung secara timbal balik. Pembaca memilih majalah yang dianggap sesuai dengan dirinya, baik konten maupun tampilan visual. Majalah menampilkan model yang dianggap sesuai dengan karakteristik pembacanya. Tidak dapat dihindari, pembaca kemudian menilai model yang ditampilkan oleh majalah tersebut. Data dari sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia mengungkapkan bahwa pembaca membeli majalah tidak saja karena menyukai artikel di dalam majalah tersebut, tetapi juga karena menyukai model yang ditampilkan, termasuk pakaian yang digunakan oleh model sampul tersebut. Sebaliknya model yang dianggap tidak sesuai dengan pembacanya baik dalam konteks kehidupan, perilaku, dan penampilan, akan mendatangkan protes dan resistensi dari pembacanya.

Sedemikian penting peran model dalam membawakan citra, sehingga ia menjadi hadir secara realistis (atau dianggap sebagai realita), padahal dalam kemajuan teknologi media saat ini, sesuatu yang tampak sebagai realita belum tentu merupakan realita, karena model berperan dalam peran seolah-olah, semata untuk hadir secara visual dan dipersepsi sesuai citra yang diinginkan terbentuk melalui dirinya…