Ragam

 

”Soon after we can see, we are aware that we can also be seen.”

(John Berger, Ways of Seeing, 1972)

Kita melihat, maka hampir pada saat yang bersamaan kita akan dilihat.

 

Pencitraan Diri dalam Budaya Visual

Pencitraan diri bukan hanya persoalan politis semata. Proses melihat dan mempersepsi yang berkembang dalam budaya visual ini menyebabkan pencitraan setiap individu menjadi penting. Citra individu terbentuk dari penampilan dirinya. Bagaimana ia berpakaian, bersikap, berbicara, berlaku. Apa yang ia bawa, ia pakai, dan ia miliki. Seseorang kemudian dinilai dari penampilan dirinya, sehingga bisa jadi seseorang memoles penampilan dirinya dengan maksud agar dinilai sesuai citra yang diinginkannya, meskipun mungkin tidak sesuai dengan realitas yang ada.

Mode dan busana menjadi kendaraan pembentuk citra diri, bahkan menjadi ekspresi individual seseorang. Sebagai produk budaya, mode dan busana menjadi landasan nilai dan penilaian seseorang oleh lingkungannya. Nilai kepantasan seseorang dalam berpakaian kemudian menjadi nilai kesesuaiannya dengan lingkungan budaya yang ada, sehingga kemudian pemberontakan yang muncul terhadap kerangka dan pagar budaya yang ada juga muncul dalam wujud mode dan penampilan diri seseorang yang sedapat mungkin berbeda dari ekspektasi lingkungannya.

Citra diri seseorang dimulai pada saat ia tampil secara visual di lingkungannya. Diakui atau tidak (karena merasa bertentangan dengan moralitas diri), seseorang dinilai dari penampilannya. Pada lingkungan profesional dan sosial, keberhasilan seseorang seringkali dipengaruhi oleh keberhasilannya dalam mematut diri. Meskipun pada tahap selanjutnya kemampuan seseorang akan mempengaruhi keberhasilannya, tetapi ”kesan pertama” dari apa yang tampak pertama, akan menentukan perilaku orang lain terhadap dirinya. Itulah sebabnya mengapa seseorang merasa perlu memikirkan, baju apa yang sebaiknya digunakan pada saat wawancara? pada saat presentasi? pada saat sesi foto? dan sebagainya,

 …karena ia akan tampil secara visual di depan orang lain.

Mode dan busana memiliki fungsi komunikatif, dan merupakan salah satu bentuk komunikasi artifaktual (Malcolm Barnard, 1996). Komunikasi artifaktual adalah bentuk komunikasi non verbal yang berlangsung melalui berbagai artefak, dalam hal ini termasuk pakaian, dandanan, dan benda-benda penunjang penampilan lainnya. Benda-benda pakai tersebut akan menyampaikan pesan kepada pelihatnya, dan membuat pernyataan tentang diri kita. Sengaja maupun tidak sengaja, bahkan meskipun kita tidak terlalu peduli akan penampilan kita, orang lain akan menerima pesan tersebut, dan mempersepsikan pesan tersebut dalam bentuk penilaian terhadap penampilan kita.

Mode dan benda-benda konsumsi lain kemudian bersinergi dengan industri media dalam menyampaikan pesan kepada kita sebagai khalayak sasarannya. Pakailah aku, maka aku akan membentuk citra dirimu. Ia muncul dalam iklan, dalam majalah dan koran, melalui televisi dan film, sehingga kemudian diterima sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk membentuk citra diri. Dengan demikian, ia yang hadir secara visual setiap hari menjadi tidak mungkin dihindari, tetapi mungkin akan lebih baik kalau kita terima sambil kita sadari kehadiran dan pengaruhnya dalam kehidupan kita…

Referensi :

Barnard, Malcolm, 2006. Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, kelas, dan Gender, terj. Idi Subandi Ibrahim dan Yosal Iriantara, MS., Yogyakarta : Jalasutra.

Berger, John, 1972. Ways of Seeing, London : Penguin Books, Ltd.

Model sebagai Pembawa Citra

Dalam budaya konsumen, media-media visual seperti iklan, majalah populer, televisi, dan sinema, menyajikan perkembangbiakan citra stylised tubuh. Media populer tersebut secara terus-menerus menekankan manfaat fashion dan kosmetika, sebagai arena tempat bekerjanya hasrat konsumen untuk membeli produk karena mereka berkeinginan untuk tampak seperti para model fashion yang mereka lihat di majalah pop. Para pahlawan dari dunia pop dan para model fashion menjadi penentu tren (trendsetter) yang memainkan peran model (the role model) terutama bagi generasi muda. Mereka menjadi icon tempat berpusarnya daur ulang gaya dan tren fashion. Citra tentang keindahan tubuh, terbuka secara seksual dan terkait dengan hedonisme, waktu luang dan display tubuh, menekankan pentingnya penampilan dan pandangan. (Malcolm Barnard, 2006)

Media-media komunikasi visual berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan yang dibawa oleh produk-produk budaya populer, untuk kemudian secara aktif menyebarkannya kepada khalayak sasaran. Fungsi ini didelegasikan kepada para selebriti yang ditampilkan pada iklan, sampul majalah, televisi, dan sinema. Dalam hal ini selebriti berperan sebagai pembawa citra yang ingin dibentuk dalam dunia populer, yang menempatkan dirinya sebagai role model dalam konteks gaya hidup dan penampilan. Kesadaran bahwa selebriti ini dilihat dan terekspos secara visual menyebabkan tingginya kesadaran untuk menjaga citra visual dirinya.

Men act, women appear”, adalah deskripsi termasyur dari John Berger mengenai situasi budaya dan relasi asimetris antara pria dan wanita. Ia menegaskan peran wanita sebagai gender yang dilihat dan diamati, yang kemudian diperumit dengan aktivitas wanita mengamati dirinya yang diamati. Relasi ini menyebabkan wanita harus memperhatikan semua yang ada pada dirinya dan semua yang dilakukannya, sebab bagaimana ia terlihat, dan terutama bagaimana terlihat di mata pria, merupakan faktor penting bagi apa yang biasanya dianggap sebagai keberhasilan dalam kehidupannya. (John Berger, 1972).

Situasi ini diserap oleh industri media dengan kerap menampilkan wanita pada iklan, majalah, televisi, dan media visual lainnya. Sebagai satu contoh kasus; media massa cetak seperti majalah wanita menampilkan wanita sebagai model sampulnya, sesuai dengan citra yang diinginkan oleh majalah tersebut tampil mewakili identitas majalah tersebut. Model pada sampul majalah berinteraksi dengan pembaca melalui tampilan visual semata. Model tidak hadir secara nyata dan berkomunikasi verbal, tetapi ia dikenali dan dipersepsi berdasarkan penampilannya yang muncul pada sampul majalah. Oleh sebab itu terjadi pemilihan dalam menentukan pose yang akan menampilkan gesture model, pakaian dan aksesori yang digunakan, tatanan rambut dan wajah yang ditampilkan, sampai dengan ekspresi dan pencahayaan dalam proses pemotretan. Semua itu dipilih dengan seksama, karena apa yang tampil dalam sampul majalah kemudian menjadi tanda-tanda semiotis yang bermakna dan berkomunikasi aktif kepada pembaca.

Relasi pembaca dengan majalah (yang tampil dalam wujud model sampul) berlangsung secara timbal balik. Pembaca memilih majalah yang dianggap sesuai dengan dirinya, baik konten maupun tampilan visual. Majalah menampilkan model yang dianggap sesuai dengan karakteristik pembacanya. Tidak dapat dihindari, pembaca kemudian menilai model yang ditampilkan oleh majalah tersebut. Data dari sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia mengungkapkan bahwa pembaca membeli majalah tidak saja karena menyukai artikel di dalam majalah tersebut, tetapi juga karena menyukai model yang ditampilkan, termasuk pakaian yang digunakan oleh model sampul tersebut. Sebaliknya model yang dianggap tidak sesuai dengan pembacanya baik dalam konteks kehidupan, perilaku, dan penampilan, akan mendatangkan protes dan resistensi dari pembacanya.

Sedemikian penting peran model dalam membawakan citra, sehingga ia menjadi hadir secara realistis (atau dianggap sebagai realita), padahal dalam kemajuan teknologi media saat ini, sesuatu yang tampak sebagai realita belum tentu merupakan realita, karena model berperan dalam peran seolah-olah, semata untuk hadir secara visual dan dipersepsi sesuai citra yang diinginkan terbentuk melalui dirinya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: