Perihal

 

”Seeing comes before words. The way we see things is affected by what we know or what we believe. We never look at just one thing; we are always looking at the relation between things and ourselves. Our vision is continually active, continually moving, continually holding things in a circle around itself, constituting what is present to us as we are.”

(John Berger, Ways of Seeing, 1972)

 

Melihat dan Mempersepsi

Kutipan di atas mungkin berusia lebih tua dari saya. Tetapi apa yang diungkapkan oleh John Berger itu saya kira masih berlaku sampai sekarang. Kalau diterjemahkan secara bebas, manusia lebih dulu belajar untuk melihat daripada berbicara dengan kata-kata. Sesuatu yang dapat kita lihat akan lebih menarik daripada apa yang hanya kita terima melalui kata-kata. Sebuah objek visual akan menarik mata pelihatnya, dan si pelihat akan serta merta menghubungkannya dengan dirinya. Melihat secara aktif berarti mempersepsi, mengolah dalam nalar, dan meramunya dalam alam pikiran kita. Oleh sebab itu melihat merupakan kegiatan aktif yang terus-menerus berlangsung, membentuk pemahaman akan dunia, dan seterusnya menjadi bahan baku pengetahuan dan pengalaman kita.

Ketertarikan saya pada objek visual, atau lebih tepatnya media visual, bisa jadi merupakan sebab akibat dari latar belakang pendidikan. Atau pendidikan dan profesi saya sekarang merupakan akibat dari ketertarikan saya tersebut? Sebagai akademisi yang bergerak dalam bidang desain komunikasi visual dengan ketertarikan utama pada penyampaian bahasa visual dalam media budaya visual saat ini, saya melatih diri untuk bernalar secara visual, sehingga kerap kali merasa lebih mudah untuk bericara dalam bahasa visual. Di mata saya, objek visual menjadi sebuah teks panjang yang akan mengungkapkan banyak pesan dan makna mendalam apabila dibaca dengan seksama.

Mungkin saya termasuk generasi saat ini, yang telah masuk dalam masa di mana budaya visual berpengaruh besar dalam perkembangan peradabannya. Paparan budaya visual yang sedemikian besar dan terus-menerus dalam kehidupan kita, dalam bentuk media cetak dan media audio visual seperti televisi dan film, telah membentuk pola persepsi dan pembiasaan kita. Produk dan jasa yang berlomba-lomba menarik perhatian calon-calon pembelinya melalui iklan di majalah, di koran, di jalan, dan di mana-mana, telah memaksa mata kita untuk akhirnya menilai segala sesuatu dari apa yang kita lihat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: