We Got the Blues

19 Desember 2011

Puisi bagi seorang penyair, lukisan bagi seorang pelukis, seperti juga sebuah gubahan musik bagi seorang pemusik. Menurut Acep Iwan Saidi, musik adalah sebuah narasi yang menyampaikan pesan dan makna tertentu. Musik menjadi sarana komunikasi antara pendengar dengan teks musik yang didengarnya. Pandangan tersebut saya sampaikan sebagai pembuka, karena apa yang akan saya tuliskan di sini mungkin semata dari perspektif saya sebagai pendengar dan penikmat musik saat saya hadir di Jakarta Blues Festival 2011, pada 17 Desember 2011 yang baru lalu.

Blues adalah musik yang lahir dan berakar dari budaya Amerika, atau lebih tepatnya masyarakat Afrika-Amerika di wilayah perkebunan sebelah selatan, pada abad ke-19. Sebagai musik yang lahir dari ungkapan kehidupan perbudakan yang sulit, Blues menjadi musik yang ekspresif menyuarakan kepedihan. Berpikir tentang Blues akan terasosiasi dengan ketakberuntungan dan penyesalan. We got the Blues, adalah ungkapan yang biasa terucap dalam kesedihan.

Dalam perkembangannya, Blues berkembang ke berbagai wilayah meskipun tidak sepesat genre musik Jazz. Hal ini terlihat dari musisi dan penonton yang hadir tidak sebanyak festival musik sejenis, Java Jazz misalnya. Padahal lirik Blues tidak semata tentang kesedihan dan jauh melampaui pengasihanan terhadap ketakberuntungan diri sendiri. Seperti kata John Mayall, I write songs about real things… The subject dictates the mood and it groes from there, really... Blues lebih sebagai ekspresi dan pelepasan terhadap kesusahan. Dalam A Brief History of the Blues, Ed Kopp memberi perumpamaan, Blues is about letting your hair down and simply having fun.

Sebagai penikmat musik, saya larut dalam musik Blues. Saya mengikuti emosi yang dibawakan oleh para musisi dalam Jakarta Blues Festival 2011. Dari rintihan kesedihan sampai kesenangan yang memuncak. Dari Blues klasik yang dibawakan oleh band internasional seperti BoPoMoFo, sampai melodi yang hadir dari tangan musisi yang berakar dari tradisi seperti Balawan. Beberapa stage yang disediakan di Festival ini masing-masing menampilkan musisi Blues dari berbagai negara dan latar, sehingga musik Blues yang diperdengarkan pun bermacam-macam. Meminjam istilah yang ditulis Roland Barthes dalam Imaji, Musik, Teks; Blues menjadi bukan hanya alunan musik dari hasil aktivitas musikal yang bersifat manual, muskular, dan fisikal, tetapi berurusan dengan suara likuida yang menerjemahkan emosi dan memperjelas petanda dan makna dari syair puitis.

Saya menikmati musik, meskipun bukan pengkoleksi sebuah genre musik secara spesifik. Bagi saya, musik berkaitan dengan rasa dan indera. Oleh sebab itu, mendengarkan musik dalam ruang dan waktu yang berbeda akan menghasilkan rasa dan situasi yang berbeda. Menikmati alunan musik dalam sebuah festival musik seperti ini, sungguh makanan terbaik bagi seluruh indera. Musik yang terdengar berpadu dengan komposisi warna dari tata panggung dan lampu yang berganti warna dan cahaya. Sejuknya angin dingin dan hujan rintik berpadu dengan kesesakan penonton area Festival. Telinga, mata, dan kulit merasakan musik yang bersenyawa dalam udara.

Musik adalah ungkapan jiwa. Entah itu gemuruh musik marching band yang menghentak  sampai lengkingan suara dari gitar, atau alunan bunyi gamelan yang menenangkan sampai rebana pengiring arak-arakan. Musik yang keluar dan dihasilkan oleh hati, akan menyentuh pendengarnya langsung. We got the Blues, bukan berarti ungkapan kesedihan tetapi justru kegembiraan tubuh menerima Blues dari seluruh indera.

Iklan

Melihat dan Mengalami Melalui KKL

10 Desember 2011

image

KKL atau Kuliah Kerja Lapangan merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran dalam perkuliahan Seni Rupa dan Desain. Pada dua bulan terakhir ini, ada beberapa proses KKL yang saya ikuti. Mengikuti perjalanan mahasiswa semester 1 kelas Nirmana I ke studio keramik Tierra Hejo dan Selasar Sunaryo di Bandung, dan menyaksikan presentasi mahasiswa semester 3 dan semester 5 setelah melakukan perjalanan peninjauan arsitektur herritage dan sentra industri mebel rotan di Cirebon, Semarang, dan Pekalongan.

Melihat, mendengar,dan mengalami adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam sebuah proses pembelajaran yang lengkap. Pembelajaran yang menyentuh seluruh indera manusia. Rangsangan yang datang melalui mata, telinga, dan sentuhan pada tangan akan membentuk persepsi dan memori secara lengkap. Dalam keilmuan Seni Rupa dan Desain, proses pembelajaran seperti inilah yang menjadi basis pembelajaran perkuliahan praktika dalam seluruh program studi pada umumnya.

Kembali ke perjalanan saya ke Bandung bersama mahasiswa Nirmana I, pada 1 Desember 2011. Perjalanan kami dimulai dengan mengunjungi Studio Pendidikan Dasar, ITB. Kelas saat itu adalah kelas Nirmana yang juga diampu oleh Pak Bambang Prasetyo, dosen Nirmana kami. Bagi mahasiswa kami, yang saat ini terbiasa melihat kelas kecil, adalah suatu pengalaman baru melihat studio kelas besar seperti di situ. Karya dan interaksi antar mahasiswa yang aktif menjadi pusat perhatian kami.

Kemudian kami menuju tujuan utama kami, Studio Keramik Tierra Hejo di Lembang. Tiba di sana kami sudah disambut dengan media tanah liat dan segala perlengkapannya yang telah rapi berjajar di meja studio itu. Setelah mendengarkan arahan dari pemiliknya, kami langsung mencoba berkreasi dalam bidang tanah liat berukuran 20×20 cm itu. Beberapa dari kami belum pernah bersentuhan langsung dengan media ini, sehingga mencoba berkreasi dalam 3 dimensi secara langsung menjadi sebuah pengalaman baru.

Ability to learn something new is based of the general state of a human being. It does not depend on special talents, nor does it operates in special fields, but putting his whole into it. (Bohm on Creativity)

Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Selasar Sunaryo, di mana kami mendapat kesempatan melihat pameran yang sedang berlangsung dan berbincang dengan pengelola tentang kegiatan Selasar Sunaryo dalam menghidupkan kehidupan berkesenian di Bandung dan sekitarnya. Sekali lagi mahasiswa belajar melalui melihat dan mengalami.

Pembelajaran yang sangat berbeda saya dapatkan ketika saya menyaksikan presentasi hasil KKL mahasiswa program studi Desain Interior ke Cirebon, Semarang, Pekalongan. Saya hanya melihat, melalui foto dan paparan, presentasi dan sketsa. Saya belum pernah hadir, berada, dan mengalami suasana daerah tersebut. Akibatnya saya tidak berhasil mempersepsi secara utuh apa yang saya lihat. Wujud visual yang saya dapatkan tersangkut pada memori yang saya yakin hanya sebatas sangkutan memori seperti saat saya membaca buku atau melihat foto dan televisi. Saya hanya bisa membayangkan suasana kota itu, panas yang seharusnya saya rasakan, bau kota pelabuhan yang semestinya saya cium. Pada saat itulah saya menyadari, pembelajaran utuh yang dibutuhkan oleh manusia adalah menyentuh dan memberi pengalaman pada seluruh indera dalam kebertubuhannya. Pada saat itulah manusia bisa belajar…


Cerita Bedah Buku “Mendesain Penjara”

8 Juni 2011

Acara bedah buku “Mendesain Penjara” karya Acep Iwan Saidi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Pra Desa Rupa Expo di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Terselenggara pada Selasa, 7 Juni 2011 di Galeri Gedung R lantai 2, acara ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa yang ingin tau lebih mendalam tentang buku ini.

Sekilas info, buku ini ditulis dalam perspektif desain dan kebudayaan dan merupakan kumpulan esai dari penulis, yang sebelumnya pernah dimuat di media massa (surat kabar) dan jurnal ilmiah. Terdiri dari tiga bagian, yaitu desain dan kebudayaan, seni dan sastra, sosial dan politik, buku ini mengulas berbagai hal yang merupakan fenomena keseharian, tetapi mampu tertangkap persoalan-persoalan reniknya yang sering terlewatkan dan berada di luar terali sejarah. Dalam kacamata perspektif penulis, desain menjadi ranah yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan. Bahkan bagi penulis, desain adalah sekumpulan makna dan nilai dalam hidup, ia bisa dibilang hidup itu sendiri.

Kemampuan penulis dalam menangkap berbagai hal dan mengulasnya dalam kerangka teoretik dan alur yang mengalir, membuat buku ini menarik untuk dibaca dan ditelaah. Membaca buku ini seperti membaca kehidupan itu sendiri, seperti mitos buku adalah jendela dunia. Kehidupan saat ini tidak dapat diselesaikan dalam ilmu yang linier, tetapi selayaknya dipandang dan diselesaikan secara holistik, lintas bidang satu dengan yang lain.

Bagi penulis, menulis menjadi sebuah cara untuk mengingat, menghapal, dan menghayati. Meskipun metode yang dipilih oleh seseorang dalam mendukung proses belajarnya berbalik kepada tipe belajar masing-masing, tetapi cara ini menarik untuk menjadi inspirasi bahwa setiap orang hendaknya menemukan caranya sendiri dalam mendukung proses pengembangan dirinya. Bagi saya, metode menulis juga metode belajar yang cocok, tepatnya menulis dan mendengar. Menulis membantu saya memusatkan konsentrasi dalam mendengar, yang kalau tidak didukung oleh pergerakan tangan di atas kertas, pikiran akan sangat mudah teralih ke hal-hal lain dan melewatkan hal-hal yang penting.

Kembali ke acara buku ini, ada beberapa hal menarik yang mucul dalam diskusi.

Menulis dan melukis, melukis dan menulis. Seorang perupa menyatakan, tidak semua yang ditulis bisa dilukiskan dengan mudah. Tetapi ternyata apabila ditelaah, kreativitas bersumber pada hal yang sama, meskipun media yang digunakan berbeda. Proses kreatif merupakan proses memahami diri (dan meningkatkan kualitas hidup?). Proses kreatif juga merupakan proses refleksi manusia yang metodologis, di mana setiap karya bernilai pasti melalui tahapan riset sebelumnya.

Bidang keilmuan dalam kehidupan seringkali menjadi penjara itu sendiri. Untuk menghindari hal itu, di mana proses keluar dari bidang ilmu satu ke yang lain menjadi proses masuk ke penjara yang berbeda, adalah menjadi penting untuk memelihara keberanian untuk mencoba melintas dan mengalami dunia yang lain. Menumbuhkembangkan hasrat untuk mencoba wilayah baru menjadi pupuk dalam menjaga manusia tetap “hidup” dalam kehidupannya.

Menutup acara bedah buku ini, mari kita berefleksi melalui penggalan kata-kata berikut… Kita tidak bisa menulis kalau kita tidak membaca, dan kita tidak bisa berbicara kalau kita tidak mendengar. Belajar butuh keberanian, di samping kecerdasan, kebijaksanaan, dan kerendahatian. What is written without effort, is read without pleasure (Eric Rasmusen)


Pameran Karya “Inspirasiku” FSRD Usakti

12 Desember 2010

 

Memiliki ruang pamer tersendiri dan mengadakan pameran karya merupakan salah satu mimpi yang telah sekian lama terpendam dalam kantong mimpi mahasiswa, alumni, dan dosen FSRD Universitas Trisakti. Mimpi ini akhirnya terwujud pada bulan Desember yang mendung ini, tepatnya tanggal 6-14 Desember 2010, di Kampus A, Universitas Trisakti, tepatnya bersamaan dengan perayaan Dies Natalis ke-45 Universitas Trisakti dan peresmian Gedung R lantai 2. Dimotori oleh Wakil Dekan III FSRD, ibu Sangayu Laksemi, didukung oleh seluruh panitia yang siap menyingsingkan lengan baju demi terlaksananya pameran yang sangat singkat persiapannya ini, akhirnya pameran karya “Inspirasiku” dibuka pada 6 Desember 2010 jam 12.00 oleh Rektor Universitas Trisakti, bapak Thoby Mutis.

Bukan hanya ucapan kosong, bila dikatakan bahwa mimpi ini merupakan mimpi bersama, karena saat kesempatan untuk berpameran ini dibuka bagi dosen, alumni, dan mahasiswa FSRD Usakti, gayung pun bersambut. Dari sambutan yang (tadinya) malu-malu, karena tak terbiasa memamerkan karya, sampai akhirnya antusias menyambut kesempatan ini dengan menampilkan beragam karya yang tadinya tersimpan rapat di folder dan lemari masing-masing. Berbagai jenis karya bermunculan, mulai dari karya seni rupa seperti lukisan, patung, etsa, fotografi, dan lainnya, sampai dengan karya desain termasuk desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, dan fashion. Seluruhnya diterima dengan tangan terbuka, karena “inspirasi” mencakup seluruh pemikiran ini, dan seluruh karya dihargai sebagai “inspirasiku” masing-masing…

Mata untuk melihat, tetapi mata membaca tidak hanya yang tertulis tetapi diungkapkan secara visual oleh apa yang terlihat…

Karya-karya yang tersebar di ruang pamer Gedung R ini, mengungkapkan bertapa beragamnya kemampuan dosen, alumni, dan mahasiswa FSRD Universitas Trisakti. Pada saat pikiran dan tangan tak terbatasi oleh teori dan batasan-batasan keilmuan, betapa luas pikiran dan tangan itu berkarya. Seni tetap merupakan imbangan yang penting bagi ilmu, dan masyarakat FSRD perlu tetap memelihara kejailan berseni, agar tetap berkembang sebagai civitas akademika FSRD Universitas Trisakti.