Diskursus Desain

24 November 2011

“Design is all around us” (Victor Margolin)

Desain ada di mana-mana. Desain menjadi nadi dari setiap benda material di kehidupan kita dan memberi nafas bagi proses imaterial pendukungnya. Ini berarti cara pandang kita terhadap dunia desain dan desain dalam wujudnya harus dilepaskan dari wujud objek itu sendiri. Wacana atau diskursus desain menyentuh lapisan luar dari desain, yaitu kehidupan itu sendiri.

Seorang guru pernah menyampaikan kepada saya, menjadi desainer adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Desainer bukan semata tukang gambar, sebab ia dituntut memiliki kemampuan berpikir dengan keilmuan interdisipliner. Hal inilah yang sering kali tidak dipahami oleh masyarakat umum, bahwa desain bukan sekedar menggambar, desain memikirkan hal-hal lain dibalik sebuah gambar dan bentuk, dari aspek di luar dan di dalam manusia pengguna desain. Konsep yang mendasari sebuah desain adalah konsep kebaruan dan penyelesaian masalah dalam kehidupan manusia.

“What is the meaning of design today?” Demikian pertanyaan yang diajukan oleh Maurizio Vitta, yang dilegitimasi dengan fakta meningkatkan populasi profesi dan pendidikan desainer di Indonesia saat ini. Pendidikan desain yang masih mengadopsi teori dan pemikiran Barat, telah mengalami perkembangan pesat saat ini.

Bagi saya, pendidikan berbasis Barat tetap diperlukan, berdasarkan refleksi atas minimnya referensi tulisan dan teoretis dalam budaya desain bangsa ini. Tetapi dalam perkembangannya, demi kelangsungan keilmuan desain dan perkembangan wacana desain berbasis budaya Indonesia, agaknya kitalah yang harus mengembangkan budaya literasi ilmiah dalam keilmuan kita masing-masing. Budaya literasi desain, dengan melihat, menganalisis, dan mengolahnya menjadi pemikiran baru, selayaknya kita tanamkan, agar kita tidak menjadi bangsa penikmat dan pengadopsi desain asing dan meniscayakan pemikiran dan karakter bangsa yang kaya ini.

Iklan

Kopi dan Kafe

18 November 2011

“Men say that coffee helps them get the job done, while woman say it’s a good way to relax (visual.ly)”

Kopi adalah satu hal yang mengawali hari saya di pagi hari. Secangkir kopi saya nikmat dengan duduk bersandar di sofa, dan kaki beralaskan bantal di depan televisi. Kopi instan tetap terasa sebagai kopi, dengan rasa dan baunya yang tidak terlalu tajam tetapi tetap memberi kenyamanan di mulut dan perut.

Menikmati kopi dalam waktu dan suasana berbeda tentu akan memberi kesan yang berbeda. Terlebih bila kopi itu dinikmati bersama teman di sebuah kafe ternama. Dilihat dari perspektif struktural, menurut Jean P. Baudrillard, yang kita konsumsi adalah tanda (pesan dan citra) ketimbang komoditas. Ini berarti konsumen membaca sistem komunikasi untuk mengetahui apa yang dikonsumsi. Komoditas tidak lagi didefinisikan berdasarkan kegunaannya, namun berdasarkan atas apa yang mereka maknai.

Biji kopi adalah komoditas. Secangkir kopi adalah bahan konsumsi. Tetapi secangkir kopi mahal yang dinikmati dalam sebuah kafe ternama adalah gaya hidup. Gaya hidup yang saat ini menjadi marak berlaku di kota besar di seluruh negeri, khususnya di kotaku ini. Kafe-kafe baru bertumbuhan di sudut-sudut kota, bahkan merambah daerah pemukiman. Apa jaminan kafe-kafe tersebut akan laku dan bertahan hidup di tengah persaingan? Gaya hidup. Gaya hiduplah yang dicari pada saat konsumsi tidak mengatasnamakan komoditas.

Saya penikmat kehidupan kota. Saat menulis blog ini pun, saya tengah menikmati secangkir kopi panas yang harum di sebuah kafe yang tengah menjadi perbincangan di lingkungan peegaulan sosial saya. Bagi saya,

Coffee is heaven…


Gadget dan Modernitas

8 November 2011

Modernitas menurut Anthony Giddens adalah keadaan kekinian dalam realitas dunia kehidupan. Ia berorientasi ke masa depan, sehingga masa depan menjadi model yang kontrafaktual, realitas yang masih semu dalam bayangan dan proyeksi masa kini. Oleh sebab itu modernitas mengandung semangat zaman dan karteristik masa kini. Manusia modern tidak boleh tertinggal.
Dari apa?
Pertanyaan itulah yang agaknya dijawab melaui gadget, yang diakrabi manusia modern saat ini. Dalam konteks alat teknologi media dan informasi, gadget membantu menjamin keberlangsungan arus informasi yang semakin deras mengalir. Gadget sendiri berada dalam posisi arus deras, di mana pengaruh perkembangan teknologi komputerisasi yang mendukungnya telah menyebabkan perubahan dan kebaruan yang tak terkira. Kebaruan yang acap kali karena tuntutan pasar, yang bisa jadi tidak secepat kemajuan teknologi pendukung. Kondisi pasar gadget inilah yang ditangkap oleh produsen smartphone dan tablet saat ini.
Kedatangan produk keluaran terbaru selalu dinanti oleh para penggila gadget. Acara launching yang diiming-imingi potongan harga istimewa dan berbagai bonus menarik selalu menjadi acara yang ditunggu dan menjadi pengeruk pasar potensial bagi produsen. Launching tersebut pun tersebar informasinya melalui gadget pendahulunya, pada ceruk pasar yang sudah terbatas dalam lingkaran komunitas penggila informasi kekinian, masyarakat urban yang tertarik arus modernitas. Sungguh lingkaran yang menakjubkan.
Marshall McLuhan telah lama menyebut kondisi masyarakat ini berada dalam suatu Global Village, di mana ada saling ketergantungan pada media elektronik baru yang membentuk dunia yang saling terhubung satu sama lain, menyatukan yang jauh dalam satu kedekatan tak terkira dalam ketakterbatasan arus informasi. Gadget menjadi otak teknologi dunia masa kini. Kecepatan informasi media menjadi penggerak industri. Konsumsi informasi menjadi motor penggerak konsumen. Dunia berada dalam genggaman mereka yang masuk dalam komunitas pembelajaran.
Tapi kondisi dalam goncangan deras informasi yang terfasilitasi oleh ketersediaan gadget ini selayaknya dilandasi oleh akar. Budaya hendaknya tetap menjadi akar. Budaya yang bukan dalam bentuk semu, yang membentuk karakter personal masyarakat suatu bangsa. Karakter personal, bukan karakter bangsa yang terlalu abstrak untuk diucapkan saat ini. Anda tentu memiliki karakter personal?
Dalam masyarakat berakar budaya yang kuat, maka modernitas tidak menjadi sesuatu yang menakutkan. Modernitas tidak akan melenyapkan karakter budaya. Apalagi modernitas yang diantar oleh produk budaya, gadget salah satunya. Pada masyarakat berkarakter budaya kuat, gadget hanyalah alat untuk memperkuat dan menyebarluaskan budaya kita sendiri.