Cerita Bedah Buku “Mendesain Penjara”

8 Juni 2011

Acara bedah buku “Mendesain Penjara” karya Acep Iwan Saidi ini merupakan bagian dari rangkaian acara Pra Desa Rupa Expo di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti. Terselenggara pada Selasa, 7 Juni 2011 di Galeri Gedung R lantai 2, acara ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa yang ingin tau lebih mendalam tentang buku ini.

Sekilas info, buku ini ditulis dalam perspektif desain dan kebudayaan dan merupakan kumpulan esai dari penulis, yang sebelumnya pernah dimuat di media massa (surat kabar) dan jurnal ilmiah. Terdiri dari tiga bagian, yaitu desain dan kebudayaan, seni dan sastra, sosial dan politik, buku ini mengulas berbagai hal yang merupakan fenomena keseharian, tetapi mampu tertangkap persoalan-persoalan reniknya yang sering terlewatkan dan berada di luar terali sejarah. Dalam kacamata perspektif penulis, desain menjadi ranah yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan. Bahkan bagi penulis, desain adalah sekumpulan makna dan nilai dalam hidup, ia bisa dibilang hidup itu sendiri.

Kemampuan penulis dalam menangkap berbagai hal dan mengulasnya dalam kerangka teoretik dan alur yang mengalir, membuat buku ini menarik untuk dibaca dan ditelaah. Membaca buku ini seperti membaca kehidupan itu sendiri, seperti mitos buku adalah jendela dunia. Kehidupan saat ini tidak dapat diselesaikan dalam ilmu yang linier, tetapi selayaknya dipandang dan diselesaikan secara holistik, lintas bidang satu dengan yang lain.

Bagi penulis, menulis menjadi sebuah cara untuk mengingat, menghapal, dan menghayati. Meskipun metode yang dipilih oleh seseorang dalam mendukung proses belajarnya berbalik kepada tipe belajar masing-masing, tetapi cara ini menarik untuk menjadi inspirasi bahwa setiap orang hendaknya menemukan caranya sendiri dalam mendukung proses pengembangan dirinya. Bagi saya, metode menulis juga metode belajar yang cocok, tepatnya menulis dan mendengar. Menulis membantu saya memusatkan konsentrasi dalam mendengar, yang kalau tidak didukung oleh pergerakan tangan di atas kertas, pikiran akan sangat mudah teralih ke hal-hal lain dan melewatkan hal-hal yang penting.

Kembali ke acara buku ini, ada beberapa hal menarik yang mucul dalam diskusi.

Menulis dan melukis, melukis dan menulis. Seorang perupa menyatakan, tidak semua yang ditulis bisa dilukiskan dengan mudah. Tetapi ternyata apabila ditelaah, kreativitas bersumber pada hal yang sama, meskipun media yang digunakan berbeda. Proses kreatif merupakan proses memahami diri (dan meningkatkan kualitas hidup?). Proses kreatif juga merupakan proses refleksi manusia yang metodologis, di mana setiap karya bernilai pasti melalui tahapan riset sebelumnya.

Bidang keilmuan dalam kehidupan seringkali menjadi penjara itu sendiri. Untuk menghindari hal itu, di mana proses keluar dari bidang ilmu satu ke yang lain menjadi proses masuk ke penjara yang berbeda, adalah menjadi penting untuk memelihara keberanian untuk mencoba melintas dan mengalami dunia yang lain. Menumbuhkembangkan hasrat untuk mencoba wilayah baru menjadi pupuk dalam menjaga manusia tetap “hidup” dalam kehidupannya.

Menutup acara bedah buku ini, mari kita berefleksi melalui penggalan kata-kata berikut… Kita tidak bisa menulis kalau kita tidak membaca, dan kita tidak bisa berbicara kalau kita tidak mendengar. Belajar butuh keberanian, di samping kecerdasan, kebijaksanaan, dan kerendahatian. What is written without effort, is read without pleasure (Eric Rasmusen)

Iklan

Rekonstruksi Citra Wanita dalam Media

1 Juni 2011

Citra wanita adalah citra yang acap kali terpinggirkan dalam media. Wanita dalam media diposisikan dalam situasi yang terkemuka secara visual, tetapi terpinggirkan dalam makna. Tinjauan tentang representasi wanita dalam media televisi dan iklan khususnya telah banyak dimuat dalam jurnal-jurnal ilmiah dan dalam tulisan populer di media massa, tetapi sayangnya hal itu tidak mengubah pelaku-pelaku industri media dalam konteks perlakuannya terhadap wanita dalam media.

Wanita dalam banyak media ditempatkan sebagai objek, bukan sebagai subjek. Sebagai objek, wanita menerima perlakuan dilihat, dinilai, diapresiasi dalam berbagai konteks wacana media. Visualisasi wanita dalam media diwarnai oleh stereotipe dan komodifikasi sebagai pelaris produk. Sementara peran perempuan sendiri belum beranjak dari urusan-urusan domestik, seperti mengasuh anak, mencuci, belanja, memasak, dan melayani kebutuhan suami. Wanita tetap menjadi subordinat laki-laki, dengan laki-laki menjadi subjek dan sang penguasa nilai-nilai kehidupan sosial. Wacana ini ada dalam berbagai bentuk media massa, mulai dari dongeng hikayat dan cerita rakyat, sampai pada majalah, iklan dan film layar lebar.

Stereotipe visual wanita adalah berkulit putih, bertubuh langsing dan berparas cantik.  Konstruksi seperti ini berurat akar dalam bentuk mainan anak-anak sampai dengan iklan perawatan bagi wanita berumur, yang notabene dimaksudkan untuk “memelihara kecantikan kulit”. Kemana citra wanita Indonesia seutuhnya yang selalu didengung-dengungkan dalam nilai-nilai Dharma Wanita zaman Orde Baru tervisualkan di sini? Apakah citra wanita Indonesia itu sebatas posisi dan kekuasaan wanita dalam rumah tangga?

Saya tidak akan mempermasalahkan posisi dan peran wanita dalam keluarga, tetapi lebih pada bagaimana wanita dikonstruksikan secara visual pada media massa. Apakah ada media massa yang secara konsisten mengkonstruksi citra wanita Indonesia dan bukan terpengaruh oleh selera pasar global? Mungkin beberapa majalah wanita di Indonesia telah berupaya untuk membentuk konstruksi citra wanita Indonesia tersebut. Antara lain majalah Femina dan majalah Dewi, yang acap kali dalam berbagai kesempatan yang insidentil sifatnya, menampilkan sosok wanita Indonesia dalam busana daerah modern, dengan gaya dan gesture yang luwes dan sopan. Tetapi apakah ini yang disebut sebagai citra wanita Indonesia?

Media berperan dalam membentuk persepsi sosial budaya masyarakat. Apa yang divisualisasikan melalui media secara terus-menerus akan diterima oleh khalayak sasarannya sebagai ujaran-ujaran yang terus-menerus pula, dan akhirnya terekam dan menjadi pembelajaran masyarakat. Seorang anak perempuan yang sejak kecil menerima cerita dongeng tentang putri dan pangeran dengan kehidupan bahagia selamanya, akan membentuk persepsi visual tentang putri cantik dan pangeran rupawan yang akan datang menyelamatkan kehidupan sengsaranya atas nama cinta. Demikian pula remaja putri yang terus-menerus melihat bagaimana gaya berbusana yang pantas dan menarik melalui majalah, iklan, dan sinetron di televisi, maka akan membentuk persepsi visual tentang jenis busana yang harus dimiliki dan membentuk citra dirinya sebagai remaja putri yang bergaya.

Istilah rekonstruksi biasa diartikan sebagai upaya membentuk kembali dan memperbaiki. Konstruksi citra wanita yang selama ini dilakukan oleh media dapat direkonstruksi oleh media itu sendiri dengan tujuan tertentu, antara lain memperbaiki citra yang sebelumnya telah terlanjur rusak. Fenomena konstruksi wanita dalam media massa sudah pada tataran yang sudah mengkhawatirkan, karena dampak yang ditimbulkan sangat besar. Peran media massa yang semestinya menjadi sarana pencerdasan publik dan emansipasi wanita, justru terus menerus mereproduksi dan melanggengkan kultur patriarki dan sekaligus mendomestikasikan dan mengabaikan wanita.

Dilandasi oleh kesadaran betapa kuatnya peran media dalam merekonstruksi citra…maka bagaimanakah kita sepatutnya merekonstruksi citra wanita Indonesia?