Jakarta Butuh Lebih Banyak Taman Kota

17 April 2011

Perjalanan pagi hari di sekitar pusat aktivitas kota Jakarta meleburkan saya pada kehidupan pagi masyarakat kota. Berada dalam lautan manusia (atau lautan sepeda?) yang melintasi jalan Sudirman – Thamrin membuat saya terpana, melihat banyaknya manusia yang melibatkan diri dalam kesesakan kota ini. Bukankah keinginan mereka ke kawasan Car Free Day di Minggu pagi ini sebenarnya adalah untuk berolah raga dan mencari kesegaran udara pagi yang pada hari-hari biasa sangat langka ditemui?

Mungkin Anda bertanya-tanya, kalau mencari udara segar kenapa pergi ke tengah kota? Untuk menjawab pertanyaan ini saya dapat memberikan beberapa alasan yang mungkin dapat mewakili sekian pendapat warga kota Jakarta. Pertama, akses yang terdekat dan memungkinkan untuk dilintasi secara langsung oleh warga kota. Jalan Sudirman –Thamrin melintasi kantung-kantung pemukiman dari Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, dan berakses langsung ke Jakarta Barat. Kedua, warga menikmati kegiatan berkumpul dan bersosialisasi dalam pusat keramaian kota, yang otomatis terwadahi dalam taman kota ini. Manusia Indonesia yang berperilaku sosial, berbudaya lisan, dan senang berkumpul.

Kalau di Paris, kebiasaan berjalan-jalan menyusuri taman dan kota menyebabkan terbentuknya perilaku sadar fashion pada masyarakat Paris, bagaimana dengan masyarakat Jakarta? Perilaku sadar fashion yang nyata dapat terlihat pada gerombolan remaja (dan dewasa) dengan sepedanya masing-masing. Terutama jenis sepeda fixie yang menjadi tren saat ini, dengan berbagai bentuk dan warna yang menarik dan ingin berbeda. Saya bergaya, maka saya ada. Saya pun terlibat di dalamnya. Buat saya, mengayuk sepeda dalam kesesakan jalur Sudirman – Thamrin memberi saya kesempatan untuk menikmati bagaimana orang terlihat, laku dan gayanya.

Sampai di taman Monas di bawah terik matahari pagi bersama gerombolan sepeda dan manusia yang berusaha masuk lewat pintu Monas yang semakin sempit, saya semakin menikmati pemandangan kota Jakarta. Tugu Monas yang menjulang pongah menjadi pusat aktivitas di antara warga yang menyemut di sekelilingnya. Taman Monas menjadi kantung kegiatan warga pusat Jakarta. Jakarta memang butuh lebih banyak taman kota. Pohon pun kelihatan terengah-engah bernapas di sana. Kalau sepanjang jalan Sudirman – Thamrin saya berjuang untuk berjalan di antara sepeda yang nyaris saling senggol satu sama lain, di sini saya mencari jalan di antara kerumunan orang yang berkumpul, duduk, berolah raga, dan piknik. Semua seakan tak perduli atas aktivitas orang lain, semua mencari tempat untuk aktivitas kelompoknya sendiri. Begitulah warga kota Jakarta.

Dalam perjalanan memutari Tugu Monas, mata saya tertuju pada sosok yang terlihat mengawasi kehidupan warganya. Berdiri tegak dalam pose formalnya, terpampang di dinding gedung yang menjulang. Ia berada di atas garis pandang mata, menjadi penjaga (bukan pengayom) warga kota Jakarta. Kalau ia memang melihat dan mengawasi gerak warga kotanya yang tumpah ruah di Taman Monas, mudah-mudahan ia juga merasa Jakarta butuh lebih banyak taman kota, selain Taman Monas…

Iklan

Kisah Briptu Norman dalam Ruang Publik Dunia Maya (II)

7 April 2011

Sebagai kelanjutan kisah terdahulu, Briptu Norman telah menjalani hukuman yang ditetapkan bagi dirinya, yaitu menyanyikan lagu yang mempopulerkan namanya itu di depan khalayak, yang notabene adalah bagian komunitasnya sendiri. Tidak tampak rasa keberatan dari yang sang tokoh dan yang menjadi publik aksinya, bahkan dari otoritas yang menjatuhkan hukuman tersebut. Itulah yang terlihat, karena karena informasi yang saya dapatkan juga, hanya melalui media massa.

Seorang teman mengatakan, pada saat seseorang melakukan aksi ekspresi tersebut, tidak lepas dari keinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik. Kesadaran ataupun keinginan bawah sadar untuk dilihat dan dikenal, telah stimulan aksi publik tersebut. Ada kesamaan dari kisah Briptu Norman dan Shinta – Jojo, keduanya tidak merasa terganggu oleh perhatian publik yang mendadak sontak tertuju pada dirinya. Pada masyarakat massa yang tertelan oleh budaya massa, selebriti telah menjadi heroic image, yang terkenal karena keterkenalannya (Daniel Boorstin). Ia menjadi ada, karena ia telah terlihat di ruang publik dan dianggap keberadaannya. Budaya massa saat ini yang notabene adalah budaya berbasis selebriti inilah yang membentuk identitas masyarakat massa.

Terkait dengan bukti kesuksesan Shinta – Jojo, tidak kecil kemungkinan ada banyak orang yang kemudian memimpikan kesempatan serupa. Sejalan dengan fenomena idol yang marak saat ini, menjadi terkenal dan kaya secara instan akhirnya bermakna sukses. Menjadi terkenal dalam hitungan waktu yang sangat singkat, dengan modal yang terlihat. Di sinilah mata dan persepsi memainkan peranan, di mana mata telah membentuk persepsi publik yang menyaksikan. Bukan rasa dongkol dan benci yang timbul, melainkan rasa terhibur bahkan simpati yang terbentuk berdasarkan tampilan sekian menit di ranah publik dunia maya. Persepsi yang membentuk simpati, yang kemudian didorong oleh media berita dan hiburan yang terus mengangkat dan mendorong pembentukan selebritas baru. Sebuah komodifikasi kedirian (selfhood) yang terbentuk melalui genre narasi media (Anthony Giddens).

Upaya pembentukan identitas sosial baru ini tidak lepas dari sikap, nilai, dan cita rasa kelompok sosial. Generasi manusia urban yang terbentuk pola pikir dan nilainya dari budaya massa dan media yang telah mengisi kantung nilai-nilai moral mereka. Kita seringkali tidak paham konteks di balik nilai teknologi media yang diciptakan Barat dan baru mampu menggunakan secara teknis. Artinya konsekuensi di tingkat pengguna tidak disertai logika sehingga salah penilaian acap kali mengaburkan inti persoalan yaitu sadar konteks (…makasih mas Adikara…) Ketidakpahaman konteks dan fungsi media juga terutama karena kita hanya sebagai pengguna dan penyerap perkembangan teknologi, yang seringkali dibuat dalam jarak dan waktu yang jauh dari kita.


Kisah Briptu Norman dalam Ruang Publik Dunia Maya

5 April 2011

 

Setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam mengekspresikan perasaan dan kebutuhan dirinya. Ekspresi yang menjadi kebutuhan pribadi untuk melampiaskan berbagai rasa positif dan negatif yang perlu dikeluarkan untuk memberikan ketenangan di hati. Ungkapan tersebut seyogyanya adalah cerminan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial, yang membutuhkan tanggapan dari orang lain atas apa yang dialaminya. Tetapi ekspresi diri itu akan menjadi konsumsi publik dan menimbulkan reaksi pada saat tersebar dalam jaringan publik, utamanya jaringan sosial dunia maya. Kisah Briptu Norman merupakan salah satu bentuk ekspresi diri yang terkonsumsi publik dan menjadi berita terhangat minggu ini.

Dunia telah menjadi tidak berjarak oleh teknologi. Dunia yang terbentang luas beribu-ribu kilometer dapat ditempuh dalam masa yang sangat singkat. Media elektronik dan jaringan dunia maya kian memperkecil jarak itu. Sebuah informasi dalam jaringan dan media dunia maya akan dikonsumsi oleh publik yang tak terbatas, yang saling kait terkait oleh jaring-jaring tak terlihat yang menghubungkan satu sama lain. Hubungan itu tak lagi terukur kedekatan relasinya, berbeda dari hubungan pertemanan dan persaudaraan yang terbentuk karena kesamaan latar dan lingkungan aktivitas fisik seseorang. Hubungan dalam dunia maya adalah hubungan semu yang menghubungkan orang-orang yang sangat bervariasi kadar kedekatannya.

Pergerakan informasi yang bersaing cepat dengan percepatan suara dan cahaya berhasil membentuk opini dalam waktu yang hampir bersamaan. Dukungan yang diberikan masyarakat kepada Briptu Norman melalui jejaring Facebook dan Twitter membuktikannya. Topik yang di tweet, retweet,  reply, share, dan sebagainya ini, menjadi bukti perhatian publik yang dengan mudahnya terarah pada sebuah topik. Kesalahan yang dikatakan telah menurunkan martabat institusi diimbangi oleh perasaan terhibur masyarakat, yang setelah berulang kali melihat tingkah polahnya dalam media, mengaku tetap bisa tersenyum bahkan tergelak karenanya.

Publik pun belajar dari peristiwa terdahulu. Kisah dua gadis yang mendadak tenar karena nyanyian seolah-olahnya, menyebabkan publik mereka-reka apa yang akan terjadi dengan Briptu Norman? Menjadi bintang iklan salah satunya, merupakan simpulan yang dengan mudah diambil oleh masyarakat setelah melihat contoh kasus tersebut. Keinginan untuk menghibur dan kepercayaan diri untuk dilihat, mungkin merupakan modal dasar seseorang yang akan melangkahkan kakinya menuju dunia selebriti. Saya menjadi, karena saya dilihat, agaknya telah memberi kekuatan tersendiri untuk bekerja pada waktu dan tuntutan yang tidak biasa bagi orang biasa.

Media yang fungsi utamanya adalah pembawa pesan, akhirnya menjadi pesan itu sendiri. Media menyampaikan budaya sebuah generasi yang ditumbuhkembangkan oleh teknologi. Setiap generasi terbentuk oleh perilaku dan lingkungan yang membentuk budayanya, sehingga membentuk model persepsi dan pengetahuan yang merumuskan semua lingkup pengetahuan.

 

(Ditulis setelah kali ketiga melihat Briptu Norman dan membaca kembali Essential McLuhan)