Menengok Citra Perempuan dari Sampul Majalah

25 Januari 2010

 

Bagaimanakah tipe perempuan cantik di Indonesia saat ini? Kebanyakan orang akan menjawab berkulit putih dan bertubuh langsing. Citra perempuan seperti ini mudah disimpulkan jika melihat suatu iklan produk. Bukan hanya produk kecantikan.

Citra tentang cantiknya seorang perempuan di Indonesia pun bisa dilihat dari perjalanan sebuah sampul majalah perempuan ternama di Indonesia. Sejak periode 1970-an sampai dengan periode tahun 2000-an, model perempuan di sampul majalah itu seolah menjadi rujukan tentang definisi “cantik”.

Penelitian mahasiswa S-2 Universitas Trisakti, Elda Franzia Jasjfi, menunjukkan faktor politik, sosial, dan ekonomi menjadi faktor-faktor penentu pembentukan sosok “cantik”. Dia meneliti sosok cantik perempuan melalui sampul majalah perempuan ternama di Indonesia sejak era 1970-an.

Tesis yang mendapat bimbingan dari dosen dan sastrawan Bandung Dr. Acep Iwan Saidi ini menyatakan bahwa image foto model, tipografi, dan warna merepresentasikan sosok perempuan dengan kategori berbeda-beda. Setiap periode sesuai dengan situasi dan kondisi politiknya, ekonomi, sosial, dan budaya telah menjadi faktor tidak ajeknya tren cantik di Indonesia.

Pada periode 1970-an, citra perempuan yang disebut cantik itu terwakili oleh sosok ibu rumah tangga dari kalangan menengah atas. Akan tetapi lebih enak disebut perempuan neopriayi. Seorang perempuan yang masih ada di dalam rumah, tetapi bercita-cita ingin mendapatkan informasi lebih banyak.

Citra seperti itu bisa dilihat dari cetakan foto model di sampul majalah tersebut. Model tampil sendiri atau berdua dengan latar suasana yang terkait “rumah”. Pemilihan latar ini memberi pesan bahwa perempuan sebagai ibu rumah tangga yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kesehariannya di rumah tangga.

Konstruksi perempuan di periode saat ini kental dengan gaya priayi Jawa. Gaya ini menekankan norma-norma perbedaan laki-laki dan perempuan yang sangat kentara bahwa perempuan adalah tulang punggung kehidupan di rumah tangga. Segala urusan apa pun di dalam rumah adalah urusan perempuan. Ibu di masa ini adalah perempuan di dalam rumah.

Dalam karya foto-foto sampul majalah tahun 1970-an menampilkan sosok perempuan priayi yang tertutup. Menurut kajian si penelitinya, hal itu merupakan penanda atas situasi represif pemerintahan orde baru. Walaupun represivitas pemerintah tidak langsung nyata melarang perempuan ke luar rumah, tetapi tekanan itu ditegaskan dalam tingkah laku hubungan suami-istri di dalam rumah.

 Periode 1980-an, dalam ruang sampul majalah perempuan itu, menjadi lanjutan dari era sebelumnya. Pada era ini perempuan digambarkan mulai berusaha menjadi sosok mandiri dengan mulai ikut bekerja. Karena saat itu pemerintah sedang gencar membangun akibat booming minyak. Di masa ini, media majalah itu ingin menyatakan bahwa sudah ada kesadaran perempuan dalam dunia kerja. Akibatnya, banyak tulisan profil perempuan yang bekerja di wilayah yang biasanya hanya dipegang laki-laki. Namun, si peneliti melihat, bahwa saat itu persoalan perempuan bekerja tidak semata-mata karena kesadaran femininisme liberal seperti yang berlaku di Barat.

Perempuan bekerja di masa 1980-an adalah karena dorongan ekonomi keluarga yang menuntut tambahan biaya. Dari sisi tampilan perempuan di masa ini, kecantikan pada masa 1980-an adalah perempuan yang gesit dan cerdas mengurus rumah tangga sekaligus kerja adalah bentuk wajah bulat dan tulang pipi menonjol. Kesan lemah lembut menjadi kesan feminin perempuan di masa itu.

Kelanjutannya di masa 1990-an, perempuan yang disebut cantik adalah mereka yang makin aktif dan terpacu dalam ruang globalisasi. Image fisik perempuan yang aktif di masa globalisasi mulai dicirikan dengan perempuan indo dengan kulit putih, tulang pipi tirus, dan wajah lonjong. Dan, tentu saja berkulit putih.

Akan tetapi masih seperti di era sebelumnya, perempuan di era 1990-an pun masih berkutat pada persoalan kerja dan rumah. Persoalan ini terimplementasi dengan sajian bacaan tentang bagaimana kehidupan perempuan aktif dengan urusan seksualitas di rumah.

Kondisi ini terus dibawa sampai ke era 2000-an. Dengan begitu, peran apa pun yang diambil perempuan di zamannya, tetap terkurung pada budaya patriarkal. Meski seolah terlihat ada nuansa kebebasan individu, perempuan Indonesia tetap masih urusan rumah. ***

artikel oleh Agus Rakasiwi seperti diterbitkan pada Buletin Kampus, Harian Pikiran Rakyat, Kamis 14 Januari 2010 http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=121379

Iklan

Model sebagai Pembawa Citra

22 Januari 2010

 

Dalam budaya konsumen, media-media visual seperti iklan, majalah populer, televisi, dan sinema, menyajikan perkembangbiakan citra stylised tubuh. Media populer tersebut secara terus-menerus menekankan manfaat fashion dan kosmetika, sebagai arena tempat bekerjanya hasrat konsumen untuk membeli produk karena mereka berkeinginan untuk tampak seperti para model fashion yang mereka lihat di majalah pop. Para pahlawan dari dunia pop dan para model fashion menjadi penentu tren (trendsetter) yang memainkan peran model (the role model) terutama bagi generasi muda. Mereka menjadi icon tempat berpusarnya daur ulang gaya dan tren fashion. Citra tentang keindahan tubuh, terbuka secara seksual dan terkait dengan hedonisme, waktu luang dan display tubuh, menekankan pentingnya penampilan dan pandangan. (Malcolm Barnard, 2006)

Media-media komunikasi visual berfungsi sebagai penyalur pesan-pesan yang dibawa oleh produk-produk budaya populer, untuk kemudian secara aktif menyebarkannya kepada khalayak sasaran. Fungsi ini didelegasikan kepada para selebriti yang ditampilkan pada iklan, sampul majalah, televisi, dan sinema. Dalam hal ini selebriti berperan sebagai pembawa citra yang ingin dibentuk dalam dunia populer, yang menempatkan dirinya sebagai role model dalam konteks gaya hidup dan penampilan. Kesadaran bahwa selebriti ini dilihat dan terekspos secara visual menyebabkan tingginya kesadaran untuk menjaga citra visual dirinya.

Men act, women appear”, adalah deskripsi termasyur dari John Berger mengenai situasi budaya dan relasi asimetris antara pria dan wanita. Ia menegaskan peran wanita sebagai gender yang dilihat dan diamati, yang kemudian diperumit dengan aktivitas wanita mengamati dirinya yang diamati. Relasi ini menyebabkan wanita harus memperhatikan semua yang ada pada dirinya dan semua yang dilakukannya, sebab bagaimana ia terlihat, dan terutama bagaimana terlihat di mata pria, merupakan faktor penting bagi apa yang biasanya dianggap sebagai keberhasilan dalam kehidupannya. (John Berger, 1972).

Situasi ini diserap oleh industri media dengan kerap menampilkan wanita pada iklan, majalah, televisi, dan media visual lainnya. Sebagai satu contoh kasus; media massa cetak seperti majalah wanita menampilkan wanita sebagai model sampulnya, sesuai dengan citra yang diinginkan oleh majalah tersebut tampil mewakili identitas majalah tersebut. Model pada sampul majalah berinteraksi dengan pembaca melalui tampilan visual semata. Model tidak hadir secara nyata dan berkomunikasi verbal, tetapi ia dikenali dan dipersepsi berdasarkan penampilannya yang muncul pada sampul majalah. Oleh sebab itu terjadi pemilihan dalam menentukan pose yang akan menampilkan gesture model, pakaian dan aksesori yang digunakan, tatanan rambut dan wajah yang ditampilkan, sampai dengan ekspresi dan pencahayaan dalam proses pemotretan. Semua itu dipilih dengan seksama, karena apa yang tampil dalam sampul majalah kemudian menjadi tanda-tanda semiotis yang bermakna dan berkomunikasi aktif kepada pembaca.

Relasi pembaca dengan majalah (yang tampil dalam wujud model sampul) berlangsung secara timbal balik. Pembaca memilih majalah yang dianggap sesuai dengan dirinya, baik konten maupun tampilan visual. Majalah menampilkan model yang dianggap sesuai dengan karakteristik pembacanya. Tidak dapat dihindari, pembaca kemudian menilai model yang ditampilkan oleh majalah tersebut. Data dari sebuah majalah wanita terkemuka di Indonesia mengungkapkan bahwa pembaca membeli majalah tidak saja karena menyukai artikel di dalam majalah tersebut, tetapi juga karena menyukai model yang ditampilkan, termasuk pakaian yang digunakan oleh model sampul tersebut. Sebaliknya model yang dianggap tidak sesuai dengan pembacanya baik dalam konteks kehidupan, perilaku, dan penampilan, akan mendatangkan protes dan resistensi dari pembacanya.

Sedemikian penting peran model dalam membawakan citra, sehingga ia menjadi hadir secara realistis (atau dianggap sebagai realita), padahal dalam kemajuan teknologi media saat ini, sesuatu yang tampak sebagai realita belum tentu merupakan realita, karena model berperan dalam peran seolah-olah, semata untuk hadir secara visual dan dipersepsi sesuai citra yang diinginkan terbentuk melalui dirinya…


Halo dunia!

15 Januari 2010

Mata merupakan anugerah Tuhan…

Mata diciptakan sehingga kita bisa melihat. Melihat bisa berarti memandang, mengamati, tetapi juga mempersepsi. Melihat objek visual berarti menangkap pesan yang disampaikan melalui objek visual tersebut. Seperti diutarakan oleh John Berger, seeing comes before words; sesuatu yang dilihat akan lebih dulu menarik daripada sesuatu yang dikatakan. Objek visual yang dilihat akan dipahami secara aktif oleh pelihatnya, karena apa yang kita lihat dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan kita.

Tulisan-tulisan di bawah ini merupakan sepenggal buah pikiran, baik yang merupakan hasil penelitian atau sekedar pengamatan, terhadap karya-karya desain komunikasi visual di sekitar kita. Segala komentar, kritik, dan masukan, akan diterima dengan lapang hati. Selamat membaca…